Marsinah bukanlah tokoh besar dengan pangkat tinggi atau suara lantang di televisi. Ia hanyalah seorang buruh pabrik biasa di PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo. Namun, di balik kesederhanaannya, Marsinah menyimpan keberanian luar biasa. Ketika rekan-rekannya memilih diam atau takut, ia justru berdiri di garis depan memperjuangkan hak buruh atas upah layak. Keberaniannya bukan demi ketenaran, melainkan semata demi keadilan yang seharusnya menjadi hak setiap pekerja.
Awal tahun 1993, sebuah surat edaran gubernur memicu gelombang tuntutan kenaikan gaji di berbagai pabrik Jawa Timur. Buruh PT CPS pun mengikuti, dengan Marsinah turut serta merancang unjuk rasa yang digelar awal Mei. Ia bukan hanya hadir dalam demonstrasi, namun juga aktif dalam perundingan. Ketika 13 rekannya digiring ke Kodim tanpa alasan jelas, Marsinah mendatangi langsung kantor militer itu untuk mencari tahu nasib mereka—sebuah langkah yang berani dan tragis, karena malam itu ia menghilang.
Tiga hari kemudian, jasad Marsinah ditemukan di hutan Wilangan dengan luka siksaan berat. Kasus ini membuka wajah kelam relasi antara militer dan industri di era Orde Baru, ketika aparat diberi ruang masuk ke ranah industri dengan alasan stabilitas, namun sering kali justru menjadi alat intimidasi. Penyelidikan pun sarat rekayasa; para petinggi pabrik ditangkap tanpa prosedur dan dipaksa mengaku dalam tekanan. Hingga akhirnya, Mahkamah Agung membebaskan seluruh terdakwa, menyisakan luka dan kejanggalan hukum yang belum terjawab hingga hari ini.
Meski nyawanya direnggut, perjuangan Marsinah terus hidup. Komite Solidaritas untuk Marsinah (KSUM) lahir dari kemarahan publik, menyuarakan keadilan yang telah dibungkam. Dari panggung-panggung teater, lagu, film, hingga usulan gelar pahlawan nasional, Marsinah telah menjelma menjadi simbol perlawanan buruh terhadap ketidakadilan. Ia bukan hanya korban kekerasan negara, tapi ikon keberanian perempuan pekerja yang menolak tunduk pada penindasan.
Di setiap peringatan Hari Buruh Internasional, nama Marsinah kembali menggema. Ia bukan sekadar kisah tragis, tapi pengingat bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan untuk hidup yang lebih manusiawi. Kepada Marsinah, generasi pekerja Indonesia berutang keberanian. Ia telah pergi, namun semangatnya tetap menjadi bara perjuangan.
Selamat Hari Buruh 1 Mei 2025.