*) Akhmad Ali Subur
Setiap organisasi yang besar pasti akan menghadapi titik balik, momen reflektif untuk melihat kembali arah perjuangan dan menata ulang langkah masa depan. Bagi Hidayatullah, titik balik itu adalah saat ini. Di usia menjelang 50 tahun kedua, inilah waktu yang tepat untuk melakukan rejuvenasi—pembaharuan pikiran dan spirit, agar organisasi ini tetap relevan, dinamis, dan terus menjadi cahaya peradaban di tengah perubahan zaman.
Rejuvenasi bukan sekadar peremajaan usia, tapi sebuah gerakan strategis untuk menyegarkan kembali cara berpikir dan membangkitkan kembali semangat perjuangan yang mungkin mulai lelah oleh rutinitas. Kita perlu menyapa masa depan dengan pikiran yang lebih terbuka, hati yang lebih ikhlas, serta semangat yang lebih menyala. Generasi pendiri telah meletakkan fondasi, kini generasi penerus harus membangun menara-menara baru di atasnya.
Salah satu langkah penting dalam rejuvenasi ini adalah melakukan internalisasi jati diri. Di tengah keterbukaan dan derasnya arus informasi, organisasi seperti Hidayatullah dituntut untuk semakin terbuka tanpa kehilangan jati dirinya. Keterbukaan bukan berarti kompromi terhadap nilai, melainkan kesiapan untuk berdialog, beradaptasi, dan menyambut siapa pun yang ingin berjalan bersama dalam kebaikan.
Namun, keterbukaan saja tidak cukup. Kita hidup di era disrupsi—di mana perubahan terjadi sangat cepat dan tak terduga. Teknologi, sosial budaya, hingga ekonomi mengalami pergeseran besar. Maka, penyempurnaan regulasi organisasi menjadi kebutuhan mendesak. Aturan-aturan internal perlu ditata ulang agar lebih responsif, fleksibel, namun tetap berpegang pada prinsip. Kita butuh sistem yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan arah perjuangan.
Pewarisan kultur menjadi tantangan berikutnya. Saat ini, kita hidup dalam suasana multi generasi. Generasi pendiri, generasi transisi, dan generasi digital semuanya hidup dan bekerja di waktu yang sama. Pewarisan nilai bukan hanya lewat ceramah atau dokumen, tapi lewat keteladanan, dialog, dan pendekatan yang sesuai dengan karakter tiap generasi. Jika tidak, kita akan kehilangan kesinambungan dan kekuatan ruhiyah yang menjadi ciri khas Hidayatullah.
Transformasi digital juga menjadi elemen krusial dalam rejuvenasi. Semua kebijakan dan gerak organisasi harus berbasis data. Tidak bisa lagi kita berjalan hanya dengan intuisi. Data akan menjadi dasar dalam mengambil keputusan, mengukur capaian, dan menyusun strategi. Digitalisasi akan mempercepat proses dakwah, memperluas jangkauan, dan meningkatkan efisiensi dalam pelayanan umat.
Dalam mengelola program, penting bagi kita untuk membedakan mana yang bersifat normatif dan mana yang substantif. Program normatif adalah rutinitas yang harus terus berjalan, sedangkan program substantif adalah terobosan strategis yang harus diprioritaskan. Di sinilah pentingnya fokus—jangan semua dikerjakan setengah-setengah, tapi pilih yang paling berdampak dan laksanakan dengan sungguh-sungguh.
Selain itu, regrouping sumber daya insani dan program juga tak terelakkan. Penataan ulang SDI sesuai kompetensi dan kebutuhan medan akan menghasilkan tim yang lebih solid dan siap berjuang. Demikian pula dengan regrouping program, agar tidak terjadi tumpang tindih dan energi tidak terbuang sia-sia.
Terakhir, fungsionalisasi amanah menjadi kunci tata kelola yang baik. Pembina, pengawas, dan pengurus harus menjalankan peran dan fungsi masing-masing dengan optimal, dalam satu irama dan semangat. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Semua bagian adalah pelengkap satu sama lain dalam sistem perjuangan.
Kini, kita berdiri di ambang sejarah. Hidayatullah akan segera menapaki 50 tahun kedua. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik loncatan menuju organisasi yang lebih kuat, terbuka, dan transformatif. Bukan hanya bertahan, tapi tumbuh dan menjadi pemimpin peradaban. Dengan rejuvenasi pikiran dan spirit, kita yakin: masa depan itu bukan untuk ditunggu, tapi untuk dibentuk bersama.
*) Ketua DPW Hidayatullah Jateng, disampaikan dalam Forum Struktural Hidayatullah Jateng, Kendal, 9 Mei 2025