Hidayatullah Jawa Tengah, Sang Kuda Hitam

Hidayatullah Jawa Tengah, Sang Kuda Hitam

*Muzakkir Usman, Ph.D.

Membaca judul di atas, bagi sebagian atau bahkan banyak kader Hidayatullah tentu akan mengernyitkan dahi. Angin apa yang membuat Jawa Tengah ujug – ujug (tiba – tiba dalam bahasa Jawa) menjadi kuda hitam, dan kenapa muncul istilah “kuda hitam”. Tulisan ini akan membahas secara singkat sebagai laporan penulis sebagai pendamping kegiatan Musyawarah Wilayah V Hidayatullah Jawa Tengah yang baru saja selesai dilaksanakan pada 22 hingga 23 November 2025 kemarin.

Hidayatullah di Jawa Tengah sejak kehadirannya 30 tahun silam telah memberikan kontribusi kepada umat khususnya dalam tarbiah dan dakwah. Kader – kader terbaik dari Hidayatullah Jawa Timur dikirim untuk merintis dan membuka Hidayatullah Jawa Tengah. Hingga saat ini jaringan Hidayatullah dalam bentuk Yayasan, Sekolah, dan Organisasi telah hadir di seluruh Kota dan kabupaten di Jawa tengah.

Dalam laporan lima tahun terakhir perkembangan organisasi, ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah demisioner yang terpilih kembali yaitu Akhmad Ali Subur memaparkan berbagai progress yang telah dicapai dengan dukungan data yang sangat komprehensif. Inilah salah satu keunggulan Hidayatullah Jawa Tengah yang sangat membantu untuk menjelaskan positioning Hidayatullah di Provinsi dengan populasi nomor tiga (3) terbesar di Indonesia ini. Data jaringan organisasi, data jumlah anggota, perkembangan lembaga pendidikan, jumlah rumah Qur’an, hingga data finansial tersaji dengan sangat detail dan lengkap. Data – data tersebut bahkan sangat mudah diakses melalui dashboard organisasi yang telah diwujudkan di wilayah ini.

Mengacu pada angka – angka, khususnya dalam jumlah jaringan baik DPD, DPC, rumah qur’an, dan anggota, usia 30 tahun Hidayatullah Jawa Tengah sesungguhnya sudah sangat patut disyukuri. Tetapi, memaknai kesyukuran sebagai sebuah aksi menerima dan diam saja sungguh sangat tidak tepat, karena dibalik rasa syukur, tentu akan diikuti oleh aksi untuk mengimplementasikan kesyukuran tersebut. Angka – angka yang disajikan perlu untuk ditingkatkan dengan mujahadah yang lebih optimal lagi agar muncul kesyukuran – kesyukuran berikutnya.

Dari data yang disajikan, Hidayatullah Jawa Tengah menyimpan potensi yang sangat terbuka untuk menjadikannya sebagai pionir peradaban. Secara geopolitik, misalnya, Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah idaman bagi politikus nasional setelah Jawa Barat dan Jawa Timur untuk mendapatkan dukungan pada kontestasi politik tingkat nasional. Di Provinsi ini, terdapat sebuah Partai yang sudah berkuasa selama 20 tahun sejak era reformasi, dan menjadi sentra rekrutmen dan pengkaderan bagi partai yang berideologi nasionalis bahkan cenderung marhaenis tersebut. Bagi Hidayatullah, hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri agar bisa tampil memberi pencerahan kepada umat untuk menawarkan sebuah arah baru peta ideologis (baca: mannhaj) bagi masyarakat Jawa tengah.

Hal pertama yang perlu dilakukan oleh DPW Hidayatullah Jawa Tengah adalah penetrasi keumatan melalui dakwah, pembinaan dan rekrutmen. Dengan Jumlah populasi yang mencapai 38 juta jiwa, dibandingkan dengan jumlah anggota Hidayatullah yang tidak sampai 5%, perlu ada akselerasi selama lima (5) tahun ke depan. Strategi yang diambil oleh DPW Hidayatullah Jawa Tengah untuk membangun Gedung Pusat Dakwah di jantung kota Semarang merupakan keputusan yang sangat brilian. Gedung dua lantai yang sedang dalam proses finishing ini telah menjadi center of exellence yang bisa memfasilitasi seluruh lapisan umat untuk mengambil manfaat dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Selanjutnya, dalam hal jaringan, kehadiran Hidayatullah dalam bentuk struktur organisasi berupa DPD dan DPC harus diupayakan untuk bisa hadir di 22 Kota/Kabupaten yang menjadi wilayah teritorial DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Kota Padat penduduk seperti Tegal ( 2 juta jiwa) dan Pekalongan (1,4 juta jiwa) hendaknya menjadi garapan serius untuk membentuk struktur organisasi tingkat Daerah hingga Cabang.

Jumlah 256 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah (9 PTN dan 247 swasta) merupakan “karunia” bagi Hidayatullah Jawa Tengah untuk meningkatkan determinasi dalam melakukan dakwah dan rekrutmen di tingkat Mahasiswa. Gelaran Munas VI Hidayatullah yang mengesahkan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) sebagai organisasi pendukung menjadi starting point bagi kader – kader pemuda Jawa tengah untuk menginisiasi pendirian GMH dan bahu membahu bersama departemen pengkaderan dan pembinaan anggota dalam menarik minat kaum intelektual muda mengambil peran dalam mewujudkan peradaban Islam di Jawa Tengah melalui Hidayatullah. Keberhasilan Hidayatullah Jawa Tengah pada fase perintisan untuk merekrut kader – kader awal yang merupakan alumni – alumni perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah (i.e.:

Ketua DMW alumni Universitas Negeri Jember, dan Ketua DPW alumni Universitas Diponegoro) merupakan trigger bagi generasi muda Hidayatullah Jawa Tengah untuk menapaktilasi dan meningkatkan kegemilangan yang pernah diraih ini.

Dalam hal Pendidikan, Jumlah 30 sekolah Hidayatullah dalam berbagai tingkatan menjadi kesyukuran yang perlu ditingkatkan. Sebagai motivasi, jumlah sekolah Muhammadiyah adalah sebanyak 719, belum terhitung Perguruan Tinggi nya. Sementara Nahdhatul Ulama yang terkenal dengan dakwah kultural nya, telah memiliki perguruan tinggi yaitu Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan, STKIP Nahdlatul Ulama Kabupaten Tegal. Bagaimana peluang untuk menghadirkan lembaga pendidikan di Jawa tengah? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Angka Partisipasi Murni (APM) khususnya di tingkat menengah 81,6% (SMP) dan 61,46% (SMA). Ini artinya, ada hampir 20% lulusan SD yang tidak tertampung di tingkat SMP, dan ada 38,54% persen yang tidak melanjutkan ke tingkatan SMA. Sebuah peluang yang sangat terbuka bagi Hidayatullah Jawa Tengah untuk menghadirkan lembaga Pendidikan di tingkat Menengah. Tentu dengan tawaran distingsi yang unggul berupa pendidikan integral berbasis tauhid, level usia dini dan dasar juga menjadi potensi untuk dikembangkan di Kota dan Kabupaten di Jawa tengah. Pengurus DPW Hidayatullah sesungguhnya sudah meletakkan fondasi yang sangat kuat dengan menetapkan strategic roadmap yang disampaikan oleh Ketua DPW demisioner dalam laporan progres report bahwa di tahun 2031 hingga 2035, Hidayatullah Jawa Tengah akan menghadirkan perguruan tinggi Hidayatullah.

Dalam perjalanan lima (5) tahun periode kepengurusan DPW Hidayatullah Jawa Tengah, sudah sangat banyak prestasi strategis yang diukir oleh pengurus di bawah kepemimpinan Ali Subur. Pendirian Hidayatullah Academy merupakan sebuah terobosan strategis yang bukan hanya investasi dalam angka (quantitative), tapi perhatian dalam kualitas manusia (qualitative). Berbagai kegiatan upgrading dan inkubasi dilakukan oleh lembaga pelatihan milik DPW Hidayatullah Jawa Tengah ini seperti leadership training pengurus se Jawa Tengah, upgrading da’i se Jawa Tengah, pelatihan kepemimpinan pemuda Hidayatullah, diklat guru profesional, dan berbagai kegiatan lainnya. Bicara urusan investasi ini, Hidayatullah Jawa tengah merupakan penyumbang terbesar dalam kegiatan pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Hidayatullah Institute, sebagai Badan pelatihan Nasional milik Hidayatullah. Ini merupakan bukti keseriusan Hidayatullah Jawa Tengah untuk berinvestasi dalam pengembangan sumber daya insani. Dalam bidang sosial,

keberhasilan Hidayatullah Jawa Tengah dalam mengesekusi program Jamsoskad (Jaminan sosial kader) bisa menjadi percontohan bahkan bagi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Selain itu, tentu saja kehadiran Dashboard organisasi yang user friendly dan lengkap menjadi salah satu keunggulan DPW Hidayatullah Jawa Tengah untuk memudahkan pengambilan keputusan berbasis data.

Beberapa legacy yang diwariskan pengurus periode kemarin menjadi bekal bagi pengurus yang telah terpilih dan dilantik pada Musyawarah Wilayah V Hidayatullah Jawa Tengah di Semarang. Terlebih Sosok Ketua, Sekretaris dan Bendahara masih dijabat oleh Incumbent yang memang berhasil menunjukkan keberhasilan dalam periode sebelumnya. Terlebih, sosok ketua terpilih merupakan asesi terbaik dari 309 peserta asesmen dari pengurus wilayah dan amal usaha serta badan usaha tingkat pusat. Hal ini diperkuat dengan masuknya alumni – alumni Hidayatullah Institute untuk menempati lima (5) departemen kepengurusan Wilayah, dengan rata – rata usia di bawah 40 tahun, sebagai jawaban rejuvenasi paradigma dan rejuvenasi alamiah.

Berbekal paparan data di atas dan perkembangan Hidayatullah selama lebih dari 30 tahun di Jawa tengah, Hidayatullah Jawa Tengah sesungguhnya menyimpan potensi untuk menarik perhatian seluruh stakeholder Hidayatullah, khususnya di tingkat pusat, bahwa selain Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, ada sebuah Provinsi yang bisa menjadi “kuda hitam” dalam pertumbuhan Hidayatullah, yaitu Jawa tengah. Selamat bertugas para kader terbaik Jawa Tengah di kepengurusan Wilayah dalam 5 tahun ke depan, semoga gerakan tarbiah dan dakwah kader – kader Hidayatullah di Jawa Tengah mampu mengubah geopolitik Provinsi yang dikenal dengan julukan “The port of Java” menjadi “The Port of Islamic Civilization”

*) Pendamping Musyawarah Wilayah V Hidayatullah Jawa Tengah