Semarang (hidayatullahjateng.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota dan Kabupaten Semarang menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri para santri dan jamaah Hidayatullah Semarang, Ahad (22/2/26)
Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah antara pengurus baru kedua DPD sekaligus memperdalam pemahaman ruhiyah tentang makna Ramadhan sebagai madrasah pembinaan iman.
Dalam sambutannya, Ketua DPD Hidayatullah Kota Semarang, Eko Zainuri menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh santri serta jamaah yang istiqamah membersamai agenda-agenda pembinaan. Ia menegaskan bahwa kebersamaan ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan bagian dari penguatan jamaah dalam bingkai manhaj perjuangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para santri dan jamaah Hidayatullah Semarang yang terus menjaga komitmen dalam pembinaan. InsyaAllah, kegiatan seperti ini akan dilaksanakan secara bergantian setiap pekan sebagai ikhtiar memperluas kebermanfaatan dan mempererat silaturahim di lingkungan jamaah,” ujarnya.
Kajian inti dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Ust. Akhmad Ali Subur. Dalam pemaparannya, ia mengajak jamaah memahami puasa secara lebih substantif. Ia menjelaskan bahwa puasa merupakan ibadah paling lama dikenal dan dipraktikkan dalam sejarah umat manusia, bahkan sebelum agama-agama samawi dianut oleh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah metode tarbiyah universal yang Allah tetapkan dalam membentuk kualitas ruh dan karakter manusia.
“Puasa jangan dipandang sekadar ritual tahunan. Ini adalah ibadah yang sarat makna dan sarana pendidikan paling elok dalam pengajaran manusia. Allah tidak sembarang mengajak umat manusia untuk berpuasa. Di dalamnya ada proses penghancuran ego dan penundukan nafsu,” tegasnya.
Menurutnya, dalam perspektif Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi bagian dari manhaj pembinaan Hidayatullah, puasa berfungsi sebagai proses pengendalian kesadaran batin. Nafsu yang selama ini dominan diarahkan untuk tunduk kepada nilai-nilai ilahiyah. Proses ini merupakan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) agar hati kembali terhubung dan selalu berharap hanya kepada Allah SWT.
Beliau menambahkan bahwa output dari ibadah puasa tidak berhenti pada aspek individual, tetapi harus melahirkan transformasi sosial.
“Hasil yang diharapkan adalah tercapainya derajat takwa, yakni la’allakum tattaqun. Dari situ akan lahir kesalehan pribadi yang berkontribusi pada kesalehan jamaah. Ketika individu-individu saleh berkumpul dalam satu barisan, maka kekuatan peradaban akan terbentuk,” jelasnya.

Kegiatan buka puasa ini menjadi bagian dari komitmen DPD Hidayatullah Kota dan Kabupaten Semarang dalam membangun kesadaran kolektif jamaah, bahwa Ramadhan adalah momentum strategis untuk konsolidasi ruhiyah dan penguatan manhaj perjuangan. Dengan pelaksanaan rutin dan bergiliran setiap pekan, diharapkan semangat pembinaan terus terjaga dan semakin meluas di tengah masyarakat.
Melalui agenda ini, Hidayatullah meneguhkan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan pembentukan karakter, penguatan solidaritas, serta peneguhan visi dakwah dalam bingkai kesalehan pribadi dan jamaah.
*/ Yusran Yauma