SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) – Suasana Pelataran Pondok Pesantren Al Burhan Putri Hidayatullah, Banyumanik, Semarang, dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti Kajian Spesial “Di Balik Pintu Hijrah : Menatap Keteguhan Iman Para Mualaf.” Rabu (29/7/26).
Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Semarang ini menghadirkan Muhammad Abdul Aziz Loe, atau yang akrab disapa Ko Aziz Loe, sebagai narasumber.
Kajian diawali dengan sambutan dari Ust. Widodo yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh jamaah dan tamu undangan. Ia juga mengucapkan selamat datang kepada Ko Aziz Loe di lingkungan Pondok Pesantren Al Burhan.
“Terima kasih atas kedatangan dan silaturahim di Pondok Pesantren Al Burhan. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyambutan maupun pelayanan masih terdapat kekurangan,” tuturnya.
Ko Aziz Loe dikenal sebagai Founder sekaligus Pembina Tionghoa Moeslim Inspiration (TMI), sebuah komunitas yang sejak tahun 2013 aktif mendampingi para mualaf dalam penguatan akidah, pembinaan ibadah, hingga pemberdayaan keluarga.
Selain itu, beliau juga merupakan Pembina Sekolah Mualaf Indonesia (SMI) dan anggota Asosiasi Pembina Mualaf Seluruh Indonesia (ALAMI).
Lahir di Bondowoso pada 1979, perjalanan dakwah Ko Aziz telah dimulai sejak bangku SMA melalui pendirian Rohani Islam (Rohis).
Berbekal pengalaman hijrah dan pembinaan yang dijalani selama bertahun-tahun, beliau kini aktif melakukan safari dakwah ke berbagai daerah, menjadi narasumber kajian, serta memanfaatkan media digital untuk menguatkan semangat para mualaf dan umat Islam secara umum.
Dalam penyampaiannya, Ko Aziz mengajak jamaah untuk memiliki mental tangguh dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
“Lelaki itu jangan ditantang, karena desain lelaki adalah penyelesai tantangan,” ungkapnya, yang disambut senyum dan anggukan para peserta.
Ia juga menekankan bahwa dakwah bukan sekadar mengajak, tetapi harus dimulai dari keteladanan.
“Kalau orang lain belum mau bergerak dalam program kebaikan, maka kerjakanlah terlebih dahulu. Keteladanan adalah bahasa dakwah yang paling kuat,” pesannya.
Menurutnya, Islam memiliki konsistensi ajaran yang terjaga sejak awal hingga akhir. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa hidayah tetap merupakan hak prerogatif Allah SWT.
“Tugas kita hanyalah menyampaikan dengan santun dan penuh hikmah. Adapun hidayah sepenuhnya milik Allah SWT,” tuturnya.
Prinsip tersebut sejalan dengan semangat dakwah yang selama ini beliau pegang, yakni “Dakwah Islam adalah dakwah yang santun dan memikat, memuliakan, bukan menghina.”
Pesan inilah yang menjadi benang merah sepanjang kajian malam itu, mengajak jamaah untuk semakin peduli terhadap saudara-saudara mualaf yang tengah berjuang meneguhkan keimanan.

Menjelang penutupan acara, panitia mengajak jamaah berpartisipasi dalam penyelesaian pengecoran halaman asrama santri putri serta pembangunan gazebo yang akan difungsikan sebagai tempat menghafal Al-Qur’an sekaligus ruang silaturahim santri putri bersama orang tua mereka.
Kehangatan kajian semakin terasa ketika seluruh jamaah menikmati hidangan bakso bersama. Momen sederhana itu menjadi penutup yang indah, mempererat ukhuwah sekaligus menegaskan bahwa dakwah tidak hanya hadir melalui lisan, tetapi juga melalui kebersamaan, kepedulian, dan pelayanan kepada sesama.
Semoga kajian ini menjadi ikhtiar untuk menumbuhkan empati, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menginspirasi lebih banyak umat agar turut membersamai perjalanan hijrah para mualaf dengan doa, perhatian, dan dukungan nyata, Pungkas Eko Zaenuri selaku Ketua Panitia sekaligus Ketua DPD Hidayatullah Kota Semarang.
Reporter : Yusran Yauma
