Semarang (hidayatullahjateng.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota dan Kabupaten Semarang menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan di Kota Semarang pada hari Senin (16/2/2026).
Forum strategis ini menjadi momentum konsolidasi kelembagaan sekaligus penajaman arah gerak dakwah dan peran peradaban ke depan. Kegiatan diikuti oleh 25 peserta dari unsur pengurus dan struktur di kedua daerah.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Daerah Kota Semarang, Ust. Eko Zainuri menegaskan bahwa orientasi utama gerakan adalah kemanfaatan yang luas bagi umat. Ia mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat. Nilai ini, menurutnya, harus menjadi ruh dalam setiap program dan kebijakan organisasi.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah Kab. Semarang,
Ust. Nasirin menekankan pentingnya kolaborasi dan kekompakan dalam membangun peradaban. Ia menyampaikan bahwa peradaban tidak lahir dari kerja individual, melainkan dari sinergi yang terstruktur dan berkelanjutan. Dalam konteks penguatan kelembagaan, ia juga mengingatkan adanya dua yayasan yang harus benar-benar di-“openi” atau dirawat secara serius agar tetap kokoh dan produktif dalam menjalankan fungsi dakwah dan pelayanan umat.
Taujih disampaikan oleh Anggota Dewan Murobbi Wilayah, Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Ahmad Suwarno yang menegaskan bahwa Rakerda ini merupakan agenda luar biasa yang tidak sekadar administratif, tetapi strategis dan ideologis. Ia mengingatkan pentingnya kembali pada tiga fondasi asli dari Jatidiri, nilai spiritual hubungan dengan Allah SWT, Hidayatullah sebagai harakah perjuangan, serta imamah dan jamaah sebagai sistem kepemimpinan kolektif. Semua itu harus dibangun secara sistematis dan berkelanjutan yang dalam perkembangannya kita mengenal 6 jatidiri Hidayatullah saat ini, Ungkap Beliau.
Ust. Ahmad Suwarno juga menyampaikan filosofi “cangkul” sebagai simbol gerakan kader. Bagian doran (pegangan) melambangkan pentingnya memperbanyak doa sebagai fondasi spiritual. Bagian bawah cangkul mengisyaratkan bahwa setelah doa, harus ada gerak nyata dan kerja konkret. Sedangkan bagian “lateh” mengandung makna bahwa tauhid dan jasad harus terus diasah, agar kader memiliki kekuatan ruhiyah sekaligus ketangguhan fisik dalam berjuang, beber beliau kepada para santrinya.
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Kepala Departemen Ekonomi, Ust. Mufti Wahyu Primadi, S.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa setiap struktur membawa tanggung jawab moral peradaban. Ia mengingatkan agar organisasi tidak terjebak pada kondisi aktif namun tidak produktif, atau besar secara struktur tetapi minim pengaruh. Menurutnya, tantangan ke depan menuntut soliditas dan efektivitas kerja.
“Lebih kompak, lebih berdampak,” tegasnya, sembari mengingatkan agar setiap program kerja DPD selaras dan sinergis dengan arah kebijakan DPW. Juga dalam agenda penutupan, beliau memberikan penegasan kepada seluruh Kawan-kawan untuk terus menguatkan jatidiri lembaga serta melakukan penguatan Kophida sebagai bagian dari instrumen strategis pemberdayaan dan kemandirian ekonomi jamaah, Ajak Beliau.
Melalui Rakerda Gabungan ini, DPD Hidayatullah Kota dan Kabupaten Semarang meneguhkan komitmen untuk memperkuat konsolidasi internal, meningkatkan produktivitas program, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
*/Yusran Yauma