SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) – Guna membekali para dai, DPW Hidayatullah Jawa Tengah menyelenggarakan Training Public Speaking pada 12 Juni 2026 bertempat di Gedung Dakwah Hidayatullah Semarang. Hadir sebagai narasumber, Drs. H. Ahmad Mirza, M.M. Beliau membagikan berbagai strategi praktis dalam membangun komunikasi dakwah yang efektif dan menyentuh hati jemaah.
Dalam pemaparannya, business coach sekaligus motivator tersebut menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam berdakwah adalah membangun kedekatan psikologis dengan audiens.
Menurutnya, pesan dakwah tidak akan mudah diterima apabila dai gagal menciptakan hubungan emosional yang kuat dengan para pendengar sejak awal penyampaian materi.
“Dakwah tidak akan pernah masuk jika kita tidak sefrekuensi dengan jemaah. Oleh karena itu, merebut perhatian audiens di awal penampilan merupakan awal mula dari seluruh strategi dakwah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perhatian merupakan pintu masuk utama dalam proses komunikasi. Karena itu, seorang dai perlu memiliki kemampuan untuk mengondisikan suasana dan mengarahkan fokus jemaah sebelum masuk pada substansi materi.

Dalam sesi tersebut, Ahmad Mirza memperkenalkan konsep sinkronisasi fisik sebagai salah satu teknik untuk membangun keterlibatan audiens.
Menurutnya, tidak sedikit jemaah yang hadir secara fisik namun pikirannya masih dipenuhi berbagai persoalan dan distraksi. Karena itu, dai perlu melakukan berbagai bentuk interaksi sederhana guna mengembalikan fokus mereka.
“Kita harus bisa meretas kebisingan, baik yang ada di ruang pertemuan maupun di dalam kepala jemaah. Caranya adalah dengan sinkronisasi fisik. Ketika fisik mereka bergerak, pikiran mereka pun akan ikut bergerak dan terarah kepada apa yang kita sampaikan,” jelasnya.
Sinkronisasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai bentuk respons yang dipandu langsung oleh pembicara, seperti mengangkat tangan, menjawab pertanyaan singkat, atau mengajak peserta melakukan gerakan tertentu yang relevan dengan materi.
Lebih lanjut, Ahmad Mirza mengingatkan bahwa tujuan utama seorang dai bukanlah mencari popularitas ataupun tepuk tangan dari audiens.
Sebaliknya, dakwah harus diarahkan untuk membuka hati jemaah agar lebih siap menerima ilmu dan hidayah.
“Kita memancing senyum jemaah untuk membuka hati mereka, bukan untuk mencari tepuk tangan atau pujian. Senyuman menjadi tanda bahwa sekat pembatas telah runtuh dan pesan dakwah siap diserap,” tuturnya.
Setelah kedekatan emosional terbangun, seorang dai perlu mengarahkan jemaah menuju kesadaran spiritual yang lebih mendalam melalui penyampaian pesan yang menyentuh sisi psikologis mereka.
Pada akhir sesi, Ahmad Mirza mengajak para peserta untuk lebih peka terhadap respons non-verbal yang ditunjukkan oleh audiens selama proses penyampaian materi.
Menurutnya, bahasa tubuh jemaah dapat menjadi alat evaluasi secara langsung mengenai efektivitas komunikasi yang dilakukan oleh seorang dai.
“Jangan abai terhadap respons visual. Bahasa tubuh jemaah adalah rapor instan bagi kita untuk menilai apakah materi kita berhasil dipahami atau tidak. Jika mereka mengangguk, condong ke depan, dan menatap penuh antusias, artinya pesan kita sampai. Jika sebaliknya, maka dai harus segera mengubah strateginya di atas mimbar,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir dai-dai Hidayatullah yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga terampil dalam berkomunikasi, memahami psikologi audiens, serta mampu menyampaikan risalah Islam dengan cara yang lebih efektif dan menyentuh hati masyarakat.
Reporter : Bagas Kurniawan
