Hadapi Era Disrupsi, Ust. Shohibul Anwar Tekankan Pentingnya Inovasi Metode Dakwah dan Penguatan Parenting

SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) – Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat menuntut adanya adaptasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dakwah dan pola pengasuhan anak. Hal tersebut disampaikan Kepala DPP Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat , Ust. Drs. Shohibul Anwar, M.H.I., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Dai Parenting di Semarang, Jum’at, 12 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Ust. Shohibul Anwar menjelaskan bahwa hakikat dakwah sejak zaman Rasulullah SAW hingga saat ini tidak mengalami perubahan. Tantangan dan rintangan yang dihadapi para dai pada dasarnya tetap sama, yaitu mengajak manusia menuju jalan Allah. Namun, yang perlu terus diperbarui adalah metode dan strategi penyampaiannya.

“Musuh dan tantangan dakwah sejak zaman Nabi itu hakikatnya sama. Yang membedakan adalah metode atau cara dakwahnya. Karena itu, kita harus mampu menyesuaikan instrumen dakwah agar tetap relevan dengan kondisi dan karakter generasi hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, era disrupsi tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, melainkan sebagai momentum untuk melahirkan inovasi dalam pelayanan dakwah. Para dai dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap perubahan sosial, memahami perkembangan teknologi, serta mampu memanfaatkan berbagai media sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai Islam.

Selain membahas strategi dakwah, Ust. Shohibul Anwar juga menyoroti pentingnya penguatan peran keluarga dalam membina generasi penerus. Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh teknologi digital, orang tua dan pendidik menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak.

Menurutnya, setiap zaman akan melahirkan tantangan baru yang harus dihadapi oleh generasi muda. Karena itu, pola asuh yang diterapkan dalam keluarga harus dirancang secara matang dan berorientasi pada pembentukan karakter serta ketahanan diri anak.

“Generasi yang lahir hari ini akan menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, parenting tidak boleh dilakukan secara asal, tetapi harus dipersiapkan dengan ilmu, strategi, dan keteladanan,” jelasnya.

Beliau juga mengingatkan agar para dai dan pendidik tidak terjebak pada euforia istilah maupun tren yang berkembang di masyarakat, tetapi lebih fokus pada substansi dakwah dan implementasinya dalam kehidupan nyata.

“Jangan sampai kita terlena dengan berbagai istilah di era disrupsi, sehingga dakwah kita justru tidak diterima dan tidak terlaksana dengan baik. Yang terpenting adalah aksi nyata dan ketepatan metode dalam menyampaikan pesan-pesan Islam,” tegasnya.

Melalui kegiatan TOT Dai Parenting ini, diharapkan lahir para dai dan fasilitator yang tidak hanya memiliki kemampuan berbicara di depan publik, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman, keterampilan komunikasi, serta strategi dakwah yang kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, dakwah Islam akan terus hadir memberikan solusi atas berbagai persoalan umat, sekaligus berkontribusi dalam menyiapkan generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi dinamika kehidupan di era modern.

Reporter : Bagas Kurniawan