Mushida Jateng Gelar Kajian Parenting “Ibu-ibu Gaza”, Hadirkan Narasumber dari Palestina

Kudus (Hidayatullahjateng.or.id) — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jawa Tengah sukses menyelenggarakan kajian parenting bertajuk “Ibu-ibu Gaza: Melahirkan Generasi Tangguh di Tengah Luka Negeri” pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh para peserta dari berbagai daerah, di antaranya ibu-ibu guru dari Kudus, Pati, dan Purwodadi. Selain itu hadir pula peserta umum yang merupakan wali murid KB-TK Ya Bunayya serta wali murid SD, SMP, dan SMK Luqman Al Hakim Kudus. Kajian ini juga diikuti oleh para siswi SMP dan SMK Luqman Al Hakim Kudus.

Ketua PW Mushida Jawa Tengah, Ustadzah Tri Wahyu Prihatin, dalam sambutannya menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari ketangguhan para ibu di Gaza dalam mendidik generasi yang memiliki ghirah perjuangan yang tinggi, terutama dalam menjaga dan membela Masjidil Aqsha.

Ia juga mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk memberikan dukungan terbaik bagi saudara-saudara di Palestina sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Dalam kesempatan tersebut, ia menukil sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dari Maimunah ra, ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Nabi Allah, berikan kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Rasulullah SAW menjawab, “Datangilah dan shalatlah di dalamnya.” Ketika ditanya jika tidak mampu, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya ia mengirim minyak untuk menyalakan lampu-lampu di Masjidil Aqsha, maka ia seperti orang yang shalat di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits tersebut menunjukkan pentingnya menjaga dan memakmurkan Masjidil Aqsha, baik dengan kehadiran langsung maupun dengan dukungan moral dan material kepada kaum Muslimin di Palestina.

Pada kajian tersebut hadir Ustadzah Rahma Al Massry, narasumber asal Palestina, yang menyampaikan materi tentang kehidupan dan pola pendidikan anak di negeri tersebut. Ia menegaskan bahwa Palestina merupakan tanah yang diberkahi. Menurutnya, meskipun masyarakat Palestina berada di tengah tekanan dan bombardir yang terus terjadi, mereka tidak pernah menyerah dan tidak berputus asa.

Dalam paparannya, ia menyampaikan beberapa nilai penting dalam pendidikan anak di Palestina.

Pertama, anak-anak di Palestina dibiasakan hidup dalam kebersamaan, termasuk dalam kehidupan keluarga. Salah satu contohnya adalah tradisi makan bersama dalam satu nampan sebagai bentuk kebersamaan yang diyakini membawa keberkahan.

Kedua, anak-anak di Palestina sebelum usia 20 tahun tidak diperkenankan menggunakan telepon genggam agar mereka fokus pada pembinaan karakter dan kedekatan dengan keluarga.

Ketiga, pendidikan Al-Qur’an menjadi prioritas utama. Banyak anak-anak Palestina yang telah menghafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 6–7 tahun.

Keempat, ia menekankan kesabaran dan keteguhan para ibu Palestina dalam melahirkan serta mendidik anak-anak mereka dengan niat menyiapkan generasi yang kelak menjaga Baitul Maqdis.

Kegiatan kajian parenting ini berlangsung dengan penuh antusiasme. Di akhir acara, panitia mengadakan penggalangan donasi untuk Palestina dari para peserta yang hadir. Acara juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize dari beberapa sponsor.

Melalui kegiatan ini, Mushida Jawa Tengah berharap para peserta dapat mengambil inspirasi dari ketangguhan para ibu di Palestina dalam mendidik generasi yang kuat secara iman, akhlak, dan semangat perjuangan.

Reporter : Lilis Budiarsih