Semarang (hidayatullahjateng.or.id/) – Suasana Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah pada Jumat (5/9/2025) terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Ratusan Muslimah dan masyarakat sekitar memadati gedung yang berlokasi di Jalan Wonodri Baru, Semarang Selatan, untuk mengikuti peringatan Hari Solidaritas Jilbab se-Dunia (HSJD). Kegiatan ini sekaligus dirangkaikan dengan program Sedekah Jumat (Semat), sehingga atmosfer kebersamaan dan kepedulian semakin terasa hangat sejak pagi.
Acara menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Ibu Frigit Nur Cipto. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa peringatan HSJD merupakan momentum penting untuk menyuarakan kebebasan berkeyakinan dan meneguhkan toleransi. Hijab, katanya, bukan sekadar penutup kepala, tetapi juga simbol ketaatan dan identitas seorang Muslimah. Lebih dari itu, HSJD adalah pengingat tentang pentingnya saling menghormati di tengah keberagaman. “Perbedaan keyakinan, cara beribadah, dan tradisi tidak seharusnya membuat kita berjarak, melainkan menjadi kesempatan untuk saling memahami,” ucapnya.
Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Tengah, Tri Wahyu P., S.Pd., dalam sambutannya turut mengingatkan kembali sejarah HSJD. Ia menuturkan bahwa peringatan ini lahir dari tragedi diskriminasi di Eropa, yang berpuncak pada wafatnya Marwa El Sherbini pada tahun 2004. Tragedi tersebut melahirkan konferensi internasional di London, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh dunia, termasuk Syeikh Yusuf Al-Qaradawi. Sejak itu, setiap tanggal 4 September ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Jilbab Internasional. “Hari ini kita menggaungkan kembali semangat itu, untuk menolak diskriminasi dan mengampanyekan kewajiban hijab bagi Muslimah,” jelasnya.
Pesan keagamaan yang lebih mendalam datang dari Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ahmad Ali Subur, S.E. Ia menegaskan bahwa Allah sangat memuliakan seorang ibu, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Ahqaf ayat 15. Oleh karena itu, seorang Muslimah harus memantaskan dirinya agar dimuliakan Allah dengan menjalankan peran besarnya dalam kehidupan, mulai dari mendidik anak-anaknya sebagai madrasah pertama, menjaga benteng moral keluarga, hingga menjadi sumber kasih sayang. Ahmad Ali Subur juga mengingatkan bahwa Muslimah masa kini harus tangguh menghadapi tantangan globalisasi yang meliputi tekanan ekonomi, perubahan kultur, hingga arus modernisasi yang kian deras. Untuk itu, teladan dari empat wanita mulia yang dijamin surga oleh Allah—Fatimah Az Zahra, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Maryam binti Imran—patut dijadikan pegangan. Menurutnya, bekal Muslimah dalam menghadapi tantangan zaman adalah memperkuat iman, melatih kesabaran, melapangkan keikhlasan, dan memperdalam ilmu.
Semangat HSJD tidak hanya berhenti di Semarang. Di berbagai daerah di Jawa Tengah, kegiatan serupa digelar secara serentak dengan kemasan berbeda. Di Ungaran, kegiatan diwarnai dengan pawai dan pembagian hijab di Alun-alun Bung Karno. Di Grobogan, acara dilaksanakan di halaman TK Islam Integral Yaa Bunayya dengan berbagi hijab dan makanan. Di Salatiga, kegiatan menyasar Desa Sarirejo Bugel, kawasan yang masih minim penduduk Muslim, dengan berbagi hijab dan makanan kepada warga. Sementara di Banjarnegara, peringatan digelar di lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah dengan kegiatan berbagi hijab dan sembako.
Rangkaian acara ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Pos Da’i, hingga para donatur. Ribuan hijab, makanan, camilan, hingga sembako berhasil tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Panitia mengungkapkan rasa syukur karena seluruh kegiatan berjalan lancar dan penuh antusiasme. “Alhamdulillah, semoga setiap hijab dan kebaikan yang dibagikan hari ini menjadi amal jariyah untuk semua yang terlibat,” ungkap Tri Wahyu menutup acara.
Lebih dari sekadar seremonial, HSJD tahun ini yang mengusung tema “Seribu Hijab untuk Muslimah Indonesia” sekaligus membawa pesan utama dari Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah: Menyambut Munas VI Mushida, 1000 Berkah untuk Indonesia. Dari Semarang hingga pelosok Jawa Tengah, gema HSJD membuktikan bahwa solidaritas dapat menjadi jembatan untuk memperkuat ukhuwah dan menjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat yang beragam.
*/Tri Wahyu P.