Taujih Perjuangan dan Konsolidasi Jamaah, Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayatullah Tekankan Pentingnya Sistem Pembinaan untuk Menjaga Keimanan

SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Semarang menggelar kegiatan Taujih Perjuangan dan Konsolidasi Jamaah yang menghadirkan Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq Marling, Lc., M.A., pada Sabtu (20/6/2026) di Masjid Pondok Pesantren Al-Burhan, Semarang.

Kegiatan ini diikuti oleh Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Semarang, Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Jawa Tengah, Pengurus Yayasan Al-Burhan, unsur organisasi pendukung (Orpen), amal usaha, serta jamaah Hidayatullah dari Kota dan Kabupaten Semarang.

Dalam taujihnya, KH. Nashirul Haq Marling menegaskan bahwa perjuangan menuju ketakwaan memerlukan wasilah yang dibenarkan syariat. Menurutnya, keberadaan jamaah dan sistem pembinaan yang dijalankan Hidayatullah merupakan salah satu sarana yang masyru’ untuk membantu umat menjaga istiqamah dalam ketaatan dan perjuangan dakwah.

“Untuk mencapai derajat takwa, seseorang memerlukan wasilah. Hidayatullah hadir sebagai salah satu wasilah yang masyru’ dalam membina umat agar tetap berada di jalan perjuangan dan ketaatan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa keimanan memiliki sifat bertambah dan berkurang (yazidu wa yanqush), sehingga memerlukan upaya yang terus-menerus untuk menjaganya. Salah satu cara yang paling efektif adalah berada dalam lingkungan orang-orang saleh dan komunitas yang senantiasa mengingatkan kepada kebaikan.

Mengutip sabda Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan bahwa iman dapat mengalami penurunan sebagaimana pakaian yang menjadi usang sehingga perlu terus diperbarui melalui berbagai amal kebaikan dan pembinaan yang berkesinambungan.

KH. Nashirul Haq Marling kemudian memaparkan beberapa langkah penting dalam merawat keimanan. Pertama, memperbanyak doa kepada Allah SWT. Menurutnya, hati manusia memiliki sifat yang mudah berubah sehingga seorang mukmin harus senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah.

Beliau mengutip doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran: 8).

Selain itu, pentingnya memohon hidayah juga diajarkan dalam Surah Al-Fatihah melalui doa yang senantiasa dibaca dalam setiap rakaat shalat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Kedua, membangun budaya saling menasihati dalam kehidupan berjamaah. Beliau mengutip firman Allah SWT:

فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55).

Menurutnya, aktivitas saling mengingatkan tidak boleh hanya berlangsung dalam majelis ilmu, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam seluruh aktivitas dakwah dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, halaqah dan berbagai forum pembinaan jamaah perlu terus dihidupkan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Ketiga, menyibukkan diri dengan amal saleh dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”

Beliau menjelaskan bahwa keimanan akan lebih terjaga ketika seorang muslim mengisi waktunya dengan aktivitas yang bernilai ibadah, dakwah, menuntut ilmu, serta berbagai amal yang memberikan manfaat bagi umat.

Pada bagian akhir taujihnya, KH. Nashirul Haq Marling menekankan bahwa menjaga kualitas keimanan dan kesinambungan perjuangan dakwah tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu semata. Diperlukan sistem pembinaan yang mampu menjaga istiqamah jamaah dalam berbagai kondisi.

Menurutnya, kesadaran seseorang sering kali mengikuti kondisi keimanannya. Ketika iman meningkat, semangat beribadah dan berdakwah akan tumbuh. Sebaliknya, ketika iman menurun, semangat tersebut juga berpotensi melemah.

Karena itu, keberadaan jamaah, halaqah, pembinaan yang terstruktur, serta perangkat organisasi menjadi kebutuhan penting dalam menjaga keberlangsungan perjuangan.

“Kesadaran itu penting, tetapi harus ditopang oleh sistem. Sebab jika hanya mengandalkan kesadaran, maka ia akan mengikuti naik turunnya kondisi keimanan seseorang. Karena itu, jamaah, pembinaan, dan sistem yang baik menjadi kebutuhan dalam menjaga istiqamah perjuangan,” pesannya.

Beliau berharap seluruh elemen Hidayatullah terus memperkuat budaya berjamaah, menghidupkan forum-forum pembinaan, serta menjaga komitmen dalam menjalankan amanah dakwah sehingga cita-cita membangun peradaban Islam dapat diwujudkan secara berkelanjutan.

Taujih ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi jamaah, meningkatkan kualitas keimanan, serta mengokohkan sinergi perjuangan dakwah.

Reporter : Shodikhul Fulqin