BATANG (hidayatullahjateng.or.id) — “Umat Islam bukan tidak punya dana. Yang tidak punya itu program real.”
Kalimat itu meluncur dari K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., Pimpinan Pondok Modern Tazakka, di hadapan rombongan pengurus Hidayatullah se-Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2026). Di Aula Rabithah, kampus Tazakka, Kabupaten Batang, kalimat sederhana namun menohok itu menjadi pembuka sebuah perjalanan belajar tentang wakaf yang berlangsung lima jam, sejak pukul 09.00 hingga 14.00 WIB.
Rombongan yang datang terdiri dari pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dan pengurus yayasan Hidayatullah se-Jawa Tengah. Mereka disambut langsung oleh K.H. Anang Rikza.
Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, S.E., menyampaikan terima kasih atas penerimaan hangat Tazakka. Ia menegaskan niat rombongan: memperdalam pemahaman tentang bagaimana potensi wakaf dapat diterapkan untuk pengelolaan pesantren-pesantren Hidayatullah di Jawa Tengah.
Di balik niat itu ada tujuan besar yang ingin dicapai, yakni kemandirian ekonomi lembaga.
Menanggapi niat tersebut, K.H. Anang Rikza mengajak para pengurus menengok ke dalam. Menurutnya, program yang nyata harus berpijak pada tiga peta: peta kader, peta infrastruktur, dan peta pendanaan. Dengan ketiganya, sebuah lembaga tahu persis apa yang dimiliki dan apa yang harus dibangun.
Namun peta saja tidak cukup. Ia menekankan empat kualitas yang wajib melekat pada para penggerak lembaga: integritas, loyalitas, totalitas, dan kapasitas.
Pesantren Mandiri Berbasis Wakaf
Pesan itu bukan teori kosong. Tazakka sendiri telah membuktikannya. Pondok yang berdiri di atas lahan sekitar 13 hektare di Desa Sidayu, Kecamatan Bandar, ini bernaung di bawah Yayasan Tazakka, yang berdiri pada 2012 dan mulai menjalankan kegiatan belajar mengajar pada 2013. Di bidang wakaf, Wakaf Tazakka dikukuhkan Badan Wakaf Indonesia sebagai nazhir wakaf uang sejak 2018, dengan enam ragam wakaf: wakaf aset, wakaf uang, wakaf melalui uang, wakaf manfaat, wakaf profesi, dan wakaf pengalihan hak.
Unit-unit usaha di bawah PT Tazko Indonesia Berkah pun ikut menyalurkan sisa hasil usaha untuk menopang operasional pondok, sehingga pesantren tidak sepenuhnya bergantung pada dana santri.
Melihat Langsung Wakaf yang Bekerja
Usai paparan, rombongan tidak hanya duduk mendengar. Mereka diajak mengunjungi pusat pengelolaan wakaf Tazakka dan unit-unit bisnis yang bersumber dari wakaf produktif, untuk melihat langsung bagaimana wakaf bekerja.
Dari kunjungan itu, satu hal paling membekas: wakaf yang diproduktifkan bisa memberi manfaat yang luar biasa. Rombongan Hidayatullah Jawa Tengah mengaku sangat terkesan dengan konsep wakaf yang diusung Tazakka.
Reporter : EE





