Selama tiga hari, para peserta mengikuti beragam kegiatan kepanduan yang dirancang untuk melatih keterampilan, kedisiplinan, kerja sama, serta ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Sejumlah kegiatan tersebut meliputi survival skill, lomba Keterampilan Baris-Berbaris (LKBB), pioneering, lomba yel-yel, dan jelajah alam.
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ustadz Akhmad Ali Subur, yang berhalangan hadir secara langsung, menyampaikan apresiasi dan dukungannya melalui sambutan tertulis yang dibacakan Ketua Departemen Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pesantren (Dikdasmentren) Hidayatullah Jawa Tengah, Ustadz Imam Suja’i.
Dalam sambutannya, Ali Subur mengapresiasi Pinsakonas, panitia, dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Kehadiran Ketua Sako Nasional (Sakonas) Pramuka Hidayatullah, Kak Syarif Daryono atau Kak Dyon, juga dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan terhadap pembinaan kepanduan di Jawa Tengah.
Ia menekankan bahwa tema Ceria, Bersaudara, Mandiri bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ceria, menurutnya, mencerminkan hati yang bertauhid dan kegembiraan dalam ketaatan kepada Allah SWT. Wajah yang ceria juga merupakan bentuk sedekah kepada sesama.
Adapun bersaudara merupakan ruh identitas Hidayatullah yang harus diwujudkan melalui persatuan akidah, melampaui perbedaan daerah dan latar belakang. Karena itu, ego kedaerahan perlu dihilangkan demi memperkuat ukhuwah.
Sementara itu, mandiri merupakan cita-cita besar dalam membentuk generasi yang tidak manja, tidak mudah menyerah, serta mampu bertanggung jawab atas ibadah, pendidikan, dan kehidupannya.

Bekali Peserta dengan Keterampilan dan Adab
Selain membacakan pesan Ketua DPW, Ustadz Imam Suja’i menyampaikan empat pesan kepada seluruh peserta jambore.
Pertama, meluruskan niat mengikuti kegiatan sebagai bentuk ibadah untuk meraih ridha Allah SWT. Kedua, menjaga adab dan akhlak, termasuk disiplin menunaikan shalat lima waktu serta santun dalam berbicara.
Ketiga, menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam Merbabu. Keempat, memanfaatkan jambore untuk menimba ilmu dan memperoleh keterampilan baru yang dapat diterapkan ketika kembali ke daerah masing-masing.
“Dinginnya Merbabu mengajarkan kesabaran, terjalnya medan mengajarkan ketangguhan, dan kebersamaan mengajarkan ukhuwah. Jadikan jambore ini sebagai madrasah,” pesannya.
Melalui berbagai aktivitas di alam terbuka, peserta tidak hanya belajar tentang teknik kepramukaan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam membangun kerja sama, mengelola tantangan, serta mengembangkan tanggung jawab pribadi dan kelompok.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan penerapan manajemen risiko SIAGA sehingga kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Tanamkan Cita-Cita Generasi Shalih dan Mandiri
Ketua Sako Daerah Hidayatullah Jawa Tengah, Kak Robi Muhtadi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan asatidzah yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, serta waktu untuk menyukseskan Jamwil XI.
Menurutnya, dedikasi para pendidik dalam kegiatan kepanduan merupakan bagian dari ikhtiar menanamkan cita-cita besar untuk melahirkan generasi shalih dan shalihah yang kokoh akidah serta tauhidnya.
Ia berharap seluruh pengorbanan dan kerja sama yang terbangun dalam kegiatan tersebut menjadi amal saleh di sisi Allah SWT. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat ucapan atau tindakan selama penyelenggaraan yang kurang berkenan.
Sementara itu, Ketua Sakonas Pramuka Hidayatullah, Kak Syarif Daryono, memberikan apresiasi kepada Jawa Tengah yang dinilainya konsisten menjadi salah satu wilayah terdepan dalam penyelenggaraan jambore, baik dari segi pelaksanaan maupun jumlah peserta.
Ia berpesan agar seluruh anggota Pramuka Hidayatullah senantiasa menjaga ketaatan, kesabaran, dan semangat dalam menjalani proses pembinaan.
Jambore Wilayah XI Sako Pramuka Hidayatullah Jawa Tengah ditutup dengan doa bersama setelah seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari selesai dilaksanakan.
Melalui kegiatan ini, Sako Pramuka Hidayatullah Jawa Tengah berharap lahir generasi yang tidak hanya terampil dan tangguh, tetapi juga berakhlak mulia, kuat dalam persaudaraan, serta mandiri dalam menjalani kehidupan.
Semangat Ceria, Bersaudara, Mandiri diharapkan terus tumbuh dan menjadi karakter peserta ketika kembali ke sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat masing-masing.
Reporter: Ahmad Miftahussurur
