SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) – Pondok Pesantren Tahfizh Al-Burhan, Gedawang, Kota Semarang, tidak lahir dari kemapanan. Ia tumbuh dari perjuangan panjang para perintis yang datang membawa amanah dakwah, ilmu, dan keyakinan.
Dalam agenda “Jejak Perjuangan Menjaga Warisan” para pelaku sejarah kembali mengenang masa-masa awal ketika Al-Burhan mulai dirintis dan tentunya belum memiliki bangunan megah, jumlah santri yang banyak, maupun fasilitas seperti sekarang ini, Agenda Jejak Perjuangan ini dikemas dalam format talkshow dengan menghadirkan 5 orang pelaku sejarah langsung, pada malam Rabu (19/8/26).
“Jejak langkah Al Burhan ini tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Hidayatullah Surabaya melalui program Kafilah Dakwah yang mengirim para kader ke berbagai daerah.” Tutur Ust. Khuzainan mengawali kisahnya.
Di Semarang, sebelum yayasan berdiri, telah ada para perintis seperti Ustaz Abdul Mu’min yang mengenalkan dakwah melalui kajian dan majalah sekaligus mencari tempat untuk menjadi basis kegiatan, jelas Ust. Nur Said Abdullah, salah satu pemateri.
“Dari Masjid Al-Fath Wonodri Sendang, rumah pinjaman di Jalan Kaligawe, hingga kemudian kawasan Singosari Timur, perjuangan terus dirintis dengan penuh kesederhanaan.” Lanjut Ust. Nur Said mengisahkan.
Para perintis sebagian merupakan mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan amanah dakwah. Mereka mencari donatur, mengajar, mengurus santri, bahkan merawat anak-anak yang masih kecil. Kondisi ekonomi pun sangat sederhana.

Ust. Ali Subur, salah satu pemateri mengenang, bahwa zaman itu tidak ada istilah, “Tidak pernah telat gaji, karena memang tidak ada gaji-nya para perintis itu.”gurau beliau.
Namun keterbatasan tersebut justru ditempa dengan pembinaan, kedisiplinan, ketaatan, dan keyakinan bahwa perjuangan yang dijalani adalah amanah.
Dari sisi santri, Ust. Pariyadi mengenang masa itu juga meninggalkan kenangan yang mendalam.
“Shalat malam berjamaah menjadi bagian dari pembinaan, dengan cara membangunkan santri dan dilakukan secara berjamaah sepanjang tahun.” Ini yang selalu dikenang sangat tegas beliau.
Fasilitas pesantren pun masih sederhana, tetapi bertahun-tahun kemudian semua itu justru menjadi kenangan indah yang mempererat ukhuwah. Dari kesederhanaan itulah lahir generasi yang kemudian menyebar dan berkiprah di berbagai bidang.
Perjuangan Al-Burhan juga tidak berhenti di lingkungan pesantren. Para kader didorong untuk hadir di tengah masyarakat melalui dakwah, forum santri, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an.
Ustaz Eko Mudin salah satu alumni yang mendapat tugas untuk dakwah ke masyarakat. Beliau berpesan untuk para santri.
“Jangan hanya saleh di pesantren, tetapi juga harus saleh di masyarakat,” menjadi pesan penting bagi generasi penerus.” Ungkap beliau menirukan amanah pimpinan waktu itu.
Dari Ust. Masrukin selaku pengasuh dan kyai pondok, beliau berbagi kenangan untuk bekal para santri.
“Orang dalam (pengasuh) itu, bergelut dengan pikiran sedikit dengan fisik, karena harus menghadapi tingkah laku anak santri yang masih kecil-kecil dengan segala tingkah gemasnya, semua harus dihadapi saat itu dengan sabar.” kenang beliau.

Pemateri terakhir yakni Ust. Widodo, beliau dengan sangat singkat menyampaikan bahwa,
“Kerja-kerja ikhlas para perintis itu, pada akhirnya membuahkan hasil. Al Burhan berdiri dan menggurat sejarah di Gedawang.” kisah beliau.
Kini para alumni telah berkiprah sebagai akademisi, dosen, pengusaha, polisi, pendidik, dan berbagai profesi lainnya. Mereka tetap membawa nama Al-Burhan sebagai bagian dari identitas dan perjalanan hidup para santrinya.
Karena itu, menjaga warisan Al-Burhan bukan sekadar merawat bangunan atau mengenang masa lalu, tetapi menjaga nilai ilmu, iman, ukhuwah, pengabdian, dan semangat perjuangan para pendahulu, pesan Ust. Widodo.
“Al-Burhan hari ini adalah buah perjuangan generasi kemarin. Dan Al-Burhan di masa depan akan ditentukan oleh generasi hari ini. Dari Gedawang, estafet itu terus berlanjut dari para guru kepada santri, dari alumni kepada masyarakat, dan dari satu generasi menuju generasi berikutnya.” Pungkas Eko Zaenuri dalam sambutan Ketua DPD Kota Semarang dalam pengantar talkshow malam itu.
Reporter : Yusran Yauma
