Integrated Modern Islamic Education Ecosystem 2030, Roadmap Baru Pendidikan Hidayatullah

SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) — Direktur Kalam Institute, Akhmad Ali Subur, S.E., menegaskan bahwa tantangan terbesar lembaga pendidikan Islam saat ini bukan lagi pada kualitas individu guru, melainkan kemampuan membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikannya dalam Pelatihan Guru dan Kepengasuhan Hidayatullah Jawa Tengah yang diselenggarakan Kalam Institute bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Jawa Tengah di Kampus Madya Al Burhan Semarang, Kamis (2/7/2026).

Mengangkat materi “Masterplan Transformasi Pendidikan: Menuju Integrated Modern Islamic Education Ecosystem 2030”, pelatihan ini diikuti lebih dari 50 guru dan pengasuh dari berbagai sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah.

Dalam pemaparannya, Akhmad Ali Subur menyoroti fenomena yang terjadi di banyak lembaga pendidikan Islam, yakni bertambahnya jumlah institusi yang tidak selalu diikuti dengan peningkatan jumlah peserta didik.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kegagalan sebagian lembaga dalam beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat.

“Pertumbuhan jumlah institusi tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan jumlah santri. Salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai, secara internal Hidayatullah Jawa Tengah memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat. Namun demikian, masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan, terutama dalam aspek branding, standardisasi mutu, dan tata kelola lembaga.

“Hidayatullah memiliki kekuatan spiritual yang sangat baik. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana memperkuat rekayasa branding dan standardisasi agar keunggulan tersebut dapat dikenali dan dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Menurut Akhmad Ali Subur, Hidayatullah memiliki posisi yang sangat strategis karena berada pada titik persilangan antara spiritualitas yang kuat dengan sistem manajemen modern.

Potensi tersebut, katanya, harus dioptimalkan menjadi keunggulan kompetitif dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.

Ia juga mengingatkan bahwa paradigma orang tua dalam memilih sekolah telah mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Jika sebelumnya prestasi akademik menjadi pertimbangan utama, kini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada pembentukan karakter, penguatan life skill, serta lingkungan pengasuhan yang sehat.

“Hari ini wali murid tidak lagi sekadar mencari tempat belajar. Mereka mencari ekosistem pengasuhan yang mampu membentuk karakter sekaligus membekali anak dengan kecakapan global,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, model pendidikan konvensional semakin sulit menjawab ekspektasi masyarakat modern apabila tidak dibarengi inovasi dan transformasi kelembagaan.

Dalam paparannya, Akhmad Ali Subur menawarkan beberapa langkah strategis untuk menyongsong visi Integrated Modern Islamic Education Ecosystem 2030.

Di antaranya adalah melakukan transformasi dari pola pengelolaan tradisional menuju manajemen modern, memperjelas segmentasi pasar agar lembaga memiliki posisi yang kuat di tengah persaingan, serta melaksanakan transformasi organisasi secara menyeluruh mulai dari kepemimpinan, budaya kerja, sistem layanan, hingga penguatan identitas lembaga.

Ia menegaskan bahwa peluang pengembangan pendidikan Islam di Indonesia masih sangat besar apabila dikelola secara profesional dan mampu membaca perubahan kebutuhan masyarakat.

Di akhir pemaparannya, Akhmad Ali Subur mengingatkan bahwa tantangan terbesar organisasi sering kali bukan terletak pada kompetensi individu, melainkan lemahnya integrasi antarelemen dalam lembaga.

“Masalah kita bukan pada kualitas individu, tetapi pada ego sektoral. Sehebat dan setulus apa pun guru, tanpa integrasi yang kuat dari top manajemen, ekosistem pendidikan akan sulit berkembang, bahkan bisa runtuh,” tegasnya.

Melalui pelatihan ini, Kalam Institute bersama Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Jawa Tengah berharap lahir kesamaan visi dalam membangun ekosistem pendidikan Hidayatullah yang modern, terintegrasi, berkarakter, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam, sehingga mampu menjawab tantangan pendidikan menuju tahun 2030.

Reporter : EE