SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) — Guru dan pengasuh di lingkungan Hidayatullah bukan sekadar menjalankan profesi sebagai pendidik, tetapi mengemban amanah perjuangan untuk menegakkan agama Allah. Karena itu, kekuatan ruhiyah harus senantiasa dijaga agar tetap istiqamah dalam menjalankan amanah dakwah dan pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Imam Syahid, Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah, dalam Tausiyah Shubuh yang menjadi bagian dari rangkaian Pelatihan Guru dan Kepengasuhan Hidayatullah Jawa Tengah di Kampus Madya Al Burhan Semarang, Jumat (3/7/2026).
Di hadapan para guru dan pengasuh sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah, Ustadz Imam Syahid mengingatkan bahwa setiap kader yang mengabdikan diri di lembaga Hidayatullah merupakan orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk mengemban amanah perjuangan.
“Kita adalah mujahid-mujahid Allah. Amanah yang kita emban hari ini adalah manifestasi perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi,” ujarnya.
Menurutnya, perjuangan tersebut tidak akan mampu dijalankan tanpa fondasi keimanan yang kokoh. Karena itu, setiap guru dan pengasuh harus terus memperkuat hubungan dengan Allah SWT agar tidak mudah goyah menghadapi berbagai ujian perjuangan.
Ia mengingatkan bahwa lemahnya pertahanan iman akan menyebabkan seseorang mudah futur, kehilangan semangat, bahkan menjauh dari jalan perjuangan.
“Oleh sebab itu, bangunlah kekuatan untuk meraih ridha Allah SWT. Kekuatan itu tidak lahir dari kemampuan diri kita, tetapi dari kedekatan kita kepada Allah,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Imam Syahid juga menekankan pentingnya menjaga shalat berjamaah lima waktu di masjid sebagai salah satu sarana memperkuat hubungan dengan Allah.
Menurutnya, istiqamah dalam menjaga shalat berjamaah akan menjadi sebab datangnya pertolongan dan bimbingan Allah dalam setiap langkah kehidupan.
“Jagalah shalat berjamaah lima waktu di masjid. Insya Allah, Allah akan menuntun kita menuju cita-cita dan tujuan perjuangan yang kita harapkan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali melalaikan manusia dari tujuan utamanya. Karena itu, setiap pendidik harus senantiasa melakukan muhasabah agar tidak terjebak dalam kesibukan dunia yang menjauhkan dari perjuangan dakwah.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadi teladan yang baik bagi generasi penerus, karena keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan paling efektif dalam membentuk karakter peserta didik.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh akhlak dan keteladanan yang ditampilkan oleh para guru dan pengasuh.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Imam Syahid juga mengingatkan bahwa kehidupan hanya menawarkan dua pilihan, yakni menempuh jalan yang lurus atau jalan kesesatan.
Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan keistiqamahan dalam meniti jalan yang diridhai-Nya.
“Merataplah kepada Allah, mintalah petunjuk kepada-Nya. Hanya Allah yang mampu memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita untuk tetap berada di jalan yang lurus,” ungkapnya.
Selain memperbanyak doa, ia juga mengajak seluruh peserta untuk memperkuat ikhtiar melalui silaturahim, saling menguatkan dalam jamaah, dan membangun ukhuwah di antara sesama pejuang dakwah.
Menurutnya, setelah seluruh ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, seorang mukmin harus menyerahkan sepenuhnya hasil perjuangannya kepada Allah SWT.
Tausiyah shubuh tersebut menjadi penguat ruhiyah bagi para peserta pelatihan agar senantiasa menjaga keikhlasan, memperkokoh iman, dan terus istiqamah dalam mengemban amanah sebagai guru dan pengasuh yang mendidik generasi penerus umat.
Reporter : EE
