SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) — Kepala Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah, KH Syakir Syafi’i, menegaskan bahwa keistiqamahan merupakan fondasi utama dalam menjaga eksistensi gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah. Karena itu, setiap guru dan murabbi dituntut untuk menanamkan mindset istiqamah dalam setiap amanah yang diemban.
Pesan tersebut disampaikan saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Guru dan Kepengasuhan Hidayatullah Jawa Tengah yang diselenggarakan Kalam Institute bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Jawa Tengah di Kampus Madya Al Burhan Semarang, Jumat (3/7/2026).
Di hadapan lebih dari 50 guru dan pengasuh sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah, KH Syakir menjelaskan bahwa amanah sebagai guru maupun murabbi bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari perjuangan dakwah yang harus dijalankan dengan penuh keteguhan.
“Mindset kita dalam menjalankan amanah adalah tsabat atau istiqamah. Pekerjaan utama gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah bertumpu pada keistiqamahan guru dan murabbi,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan Hidayatullah tidak hanya diukur dari capaian akademik peserta didik, tetapi dari lahirnya kader umat yang memiliki keimanan yang kokoh, keluasan ilmu, akhlak mulia, serta profesionalisme dalam mengemban amanah kehidupan.
“Guru atau murabbi Hidayatullah memiliki misi mewujudkan kader umat yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan profesional,” katanya.

Lebih lanjut, KH Syakir menekankan bahwa sosok guru dan pengasuh yang profesional sekaligus profetik hanya dapat lahir apabila kembali kepada enam jati diri Hidayatullah sebagai fondasi berpikir, bersikap, dan bertindak.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus dihidupkan dalam aktivitas pendidikan sehingga tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjelma menjadi budaya yang membentuk karakter para pendidik maupun peserta didik.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak seluruh guru untuk membangun narasi syukur atas nikmat istiqamah yang Allah berikan melalui jalan perjuangan di Hidayatullah.
Narasi tersebut, katanya, penting untuk mengingat kembali berbagai keutamaan yang dirasakan selama berada di lingkungan Hidayatullah, baik dari sisi pembinaan ruhiyah maupun penguatan ideologis.
“Jagalah rasa syukur dengan terus mengingat apa saja yang telah menguatkan kita sehingga tetap istiqamah berada di Hidayatullah. Syukur itu akan semakin mengokohkan langkah perjuangan,” tuturnya.
KH Syakir kemudian memaparkan sejumlah nilai praktis yang menjadi ciri khas pembinaan di lingkungan Hidayatullah, di antaranya pembiasaan shalat berjamaah lima waktu, budaya hidup tanpa rokok, penjagaan hijab antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, komitmen muslimah mengenakan jilbab secara syar’i, serta penguatan Gerakan Nawafil sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, apabila seluruh nilai tersebut dipraktikkan secara konsisten, maka akan membentuk pribadi-pribadi yang dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang saleh.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membangun tsiqah dalam ilmu dan amal. Seorang guru, katanya, tidak cukup hanya memiliki keluasan pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan keteladanan melalui amal nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup materinya, KH Syakir mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga keikhlasan dan keistiqamahan dalam mengemban amanah pendidikan. Sebab, menurutnya, kekuatan utama Hidayatullah terletak pada para guru dan murabbi yang istiqamah dalam mendidik, membina, dan menyiapkan kader-kader umat yang siap melanjutkan estafet perjuangan Islam.
Pelatihan Guru dan Kepengasuhan Hidayatullah Jawa Tengah ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas guru dan pengasuh agar mampu menjalankan perannya sebagai pendidik yang profesional, profetik, serta tetap berpijak pada jati diri dan nilai-nilai perjuangan Hidayatullah.
Reporter : EE
