Saryo Tekankan Jiwa Pengasuh Lebih Penting daripada Sekadar Keterampilan Mengasuh

SEMARANG (hidayatullahjateng.or.id) — Kalam Institute bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Jawa Tengah menggelar Pelatihan Guru dan Kepengasuhan Hidayatullah Jawa Tengah di Kampus Madya Al Burhan Semarang, Kamis (2/7/2026).

Pelatihan yang mengusung tema “Menjadi Guru dan Pengasuh yang Profesional dan Profetik di Era Disrupsi” ini diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri atas guru dan pengasuh sekolah-sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah.

Pada sesi bertajuk “Leadership Soul dalam Kepengasuhan”, Saryo, M.Pd., Kepala Divisi Produk dan Pengembangan Kalam Institute, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi mengajar maupun keterampilan mengasuh, tetapi juga oleh kualitas jiwa seorang pendidik.

“Keterampilan mengasuh sangat penting, ilmu kepengasuhan juga sangat penting, sosok pengasuh pun sangat penting. Namun, ada sesuatu yang lebih penting dari semuanya, yaitu jiwa pengasuh itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, seorang guru maupun pengasuh tidak cukup hanya menguasai metode pendidikan, tetapi juga harus memiliki hati yang tulus, penuh kasih sayang, dan senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah SWT dalam mendidik peserta didik.

Dalam kesempatan tersebut, Saryo mengutip pesan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, tentang pentingnya dimensi spiritual dalam proses pendidikan.

“Kita tidak bisa menjadikan santri pintar dan penurut, semua dalam kuasa Allah. Yang harus kita tanyakan kepada diri kita adalah, sudahkah kita berdoa kepada Allah agar dilunakkan dan dilembutkan hati santri-santri kita.”

Ia menjelaskan bahwa doa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses kepengasuhan. Guru tidak hanya bertugas mendidik dengan ilmu dan keteladanan, tetapi juga mengiringi setiap ikhtiar pendidikan dengan munajat kepada Allah SWT.

Sebagai teladan, ia mengingatkan doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu atas permintaan ibunya, Ummu Sulaim.

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, berkahilah apa yang Engkau karuniakan kepadanya, panjangkanlah umurnya, dan ampunilah dosa-dosanya.”

Menurut Saryo, doa tersebut menunjukkan bahwa perhatian seorang pendidik terhadap anak didiknya tidak hanya diwujudkan melalui proses pembelajaran, tetapi juga melalui doa yang terus dipanjatkan untuk kebaikan mereka.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepengasuhan di lingkungan sekolah merupakan sistem pendidikan yang mengintegrasikan kegiatan akademik dengan pendampingan terhadap tumbuh kembang jiwa dan raga peserta didik.

Kepengasuhan mencakup perhatian, pendampingan, dan pengarahan yang berkesinambungan, keteladanan dari para pendidik, pembiasaan adab dalam kehidupan sehari-hari, perlindungan terhadap keamanan fisik maupun ideologi peserta didik, hingga bimbingan emosional agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan spiritual.

Selain itu, Saryo menekankan pentingnya kemampuan guru dalam memvalidasi emosi peserta didik serta membangun empati kepada mereka.

Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan Abu Umair, seorang anak kecil yang sedang bersedih karena burung peliharaannya mati. Alih-alih mengabaikan perasaan sang anak, Rasulullah justru menghiburnya dengan penuh kelembutan dan canda yang menenangkan.

Menurutnya, teladan tersebut menunjukkan bahwa seorang pendidik harus mampu memahami dunia anak, menghargai perasaannya, dan menghadirkan rasa aman dalam proses pendidikan.

Saryo juga mengingatkan bahwa pelatihan kepengasuhan tidak hanya penting bagi guru, tetapi juga bagi para pengasuh di lingkungan asrama. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.

Melalui pelatihan ini, Kalam Institute bersama Departemen Pendidikan dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Jawa Tengah berharap lahir guru dan pengasuh yang tidak hanya profesional dalam menjalankan tugasnya, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, keteladanan, dan keikhlasan dalam membina generasi yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kedekatan kepada Allah SWT.

Reporter : EE